Minggu, 21 November 2010

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PRAKTIKUM 1
I.     JUDUL                          :
UJI KARBOHIDRAT
1.      TEST IODIUM
2.      TEST BENEDICT
II.  TUJUAN                         :
1.      Mengetahui kandungan zat tepung
2.      Mengetahui kandungan gula
III.TANGGALPRAKTIKUM:
4 OKTOBER 2010

IV. PENDAHULUAN
Karbohidrat tersebar luas baik dalam jaringan hewan maupun jaringan tumbuh-tumbuhan. Dalam tumbuh-tumbuhan, karbohidrat dihasilkan oleh fotosintesis dan mencakup selulosa serta pati. Pada jaringan hewan, karbohidrat dalam bentuk glukosa dan glikogen.
Karbohidrat adalah polihidroksildehida dan keton polihidroksil atau turunannya. selain itu, ia juga disusun oleh dua sampai delapan monosakarida yang dirujuk sebagai oligosakarida. Karbohidrat mempunyai rumus umum Cn(H2O)n. Rumus itu membuat para ahli kimia zaman dahulu menganggap karbohidrat adalah hidrat dari karbon. Pada umumnya karbohidrat merupakan zat padat berwarna putih yang sukar larut dalam pelarut organik tetapi larut dalam air (kecuali beberapa polisakarida).
Karbohidrat merupakan kelompok besar senyawa polihidroksialde-hida dan polihidroksiketon atau senyawa-senyawa yang dapat dihidrolisis menjadi polihidroksialdehida atau polihidroksiketon Karbohidrat memiliki rumus struktur dari Fisher dan Haworth. Struktur Fisher merupakan struktur rantai terbuka sedangkan struktur Haworth merupakan struktur tertutup (siklik).
Secara biologis, karbohidrat memiliki fungsi sebagai bahan baku sumber energi baik pada hewan, manusia dan tumbuhan. Karbohidrat dikelompokkan menjadi empat kelompok penting yaitu monosa-karida, disakarida, oligosakarida, dan polisakarida.
1.      Monosakarida
Monosakarida merupakan karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis dan tidak kehilangan sifat gulanya. Contoh dari monosakarida adalah ribosa, arabinosa, fruktosa, glukosa, dan lainnya. Golongan monosakarida ini biasanya dikelompokkan dalam triosa, tetrafosfat, pentosaheksosa, dan heptosa.
2.      Disakarida
Disakarida merupakan karbohidrat yang bila dihidrolisis menghasilkan dua monosakarida yang sama atau berbeda. Contohnya adalah sukrosa yang jika dihidrolisis akan menghasilkan glukosa dan fruktosa.
3.      Oligosakarida
Oligosakarida merupakan karbohidrat yang bila dihidrolisis menghasilkan tiga hingga sepuluh monosakarida. Contohnya adalah raffinosa yang dihidrolisis menghasilkan glukosa, fruktosa, dan galaktosa.
4.      Polisakarida
Polisakarida yang merupakan polimer monosakarida yang memiliki bobot molekul yang tinggi. Bila dihidrolisis akan menghasilkan lebih dari sepuluh monosakarida. Contohnya adalah amilum, dekstrin, glikogen, selulosa dan lainnya. (Wahyudi,dkk. 2003).
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah. Dalam alam glukosa dihasilkan dari reaksi antara karbondioksida dan air dengan bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun.

Fruktosa adalah suatu ketoheksosa yang mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kiri dan karenanya disebut juga levulosa. Fruktosa mempunyai rasa lebih manis dari pada gula tebu atau sukrosa. Fruktosa dapat dibedakan dari glukosa dengan pereaksi seliwanoff, yaitu larutan resorsinol (1,3 dhidroksi-benzena) dalam asam clorida.

Umumnya berikatan dengan glukosa dalam bentuk laktosa, yaitu gula yang terdapat dalam susu. Galaktosa mempunyai sifat memutar bidang cahaya terpolarisasi ke kanan. Pada proses oksidasi oleh asam nitrat pekat dan dalam keadaan panas galaktosa menghasilkan asam musat yang kurang larut dalam air bila dibandingkan dengan asam sakarat yang dihasilkan oleh oksidasi glukosa.

Laktosa memiliki gugus karbonil yang berpotensi bebas pda residu glukosa. Laktosa adalah disakarida pereduksi. Selama proses pencernaan, laktosa mengalami proses hidrolisis enzimatik oleh laktase dari sel-sel mukosa usus.

Sukrosa atau gula tebu adalah disakarida dari glukosa dan fruktosa. Sukrosa dibentuk oleh banyak tanaman tetapi tidak terdapat pada hewan tingkat tinggi. Sukrosa mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kanan. Hasil yang diperoleh dari reaksi hidrolisis adalah glukosa dan fruktosa dalam jumlah yang ekuimolekular.



Amilum dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan glukosa. Hidrolisi dapat juga dibantu dengan bantuan enzim amilase. (http://aboutchemistry21.blogspot.com/2008/12/analisa-kualitatif-karbohidrat.html)
Dalam karbohidrat dikenal beberapa pengujian untuk menentukan kandungan yang terdapat dalam karbohidrat tersebut. Salah satu diantaranya adalah pengujian yang menggunakan iodium sebagai reagen yang dikenal sebagai uji iod. Uji atau tes ini digunakan untuk memisahkan amilum atau pati yang terkandung dalam larutan tersebut. Reaksi positifnya ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi biru. Warna biru yang dihasilkan diperkirakan adalah hasil dari ikatan kompleks antara amilum dengan iodin. Sewaktu amilum yang telah ditetesi iodin kemudian dipanaskan, warna yang dihasilkan sebagai hasil dari reaksi yang positif akan menghilang. Dan sewaktu didinginkan warna biru akan muncul kembali. Di dalam amilum sendiri terdiri dari dua macam amilum yaitu amilosa yang tidak larut dalam air dingin dan amilopektin yang larut dalam air dingin (Wahyudi,dkk. 2003).
Ketika amilum dilarutkan dalam air, amilosa akan membentuk micelles yaitu molekul-molekul yang bergerombol dan tidak kasat mata karena hanya pada tingkat molekuler. Micelles ini dapat mengikat I2 yang terkandung dalam reagen iodium dan memberikan warna biru khas pada larutan yang diuji. Pada saat pemanasan, molekul-molekul akan saling menjauh sehingga micellespun tidak lagi terbentuk sehingga tidak bisa lagi mengikat I2. Akibatnya warna biru khas yang ditimbulkan menjadi menghilang. Micelles akan terbentuk kembali pada saat didinginkan dan warna biru khaspun kembali muncul. Warna biru khas yang ditimbulkan sebagai hasil dari reaksi positif, juga akan hilang jika larutan yang telah positif dalam pengujian iod ditambah dengan NaOH. Ion Na+ yang bersifat alkalis akan mengikat iodium sehingga warna biru khas akan memudar dan hilang.( http://sweetir1s.multiply.com/journal/item/5)
Beberapa glukosa memiliki gugus gula pereduksi. Hal ini dapat dibuktikan dengan pengujian Benedict yang akan memberikan warna kehijauan jika hasil reaksi tersebut positif. Larutan glukosa yang dipanaskan setelah diteteska pada reagen benedict akan memberi warna kehijauan. Dengan demikian, glukosa mengandung gula pereduksi. Larutan tembaga alkalis pada reagen Benedict bila direaksikan dengan karbohidrat yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas akan terjadi reduksi membentuk Cupro oksida (Cu2O) yang ditandai dengan warna kehijauan sebagai akibat adanya reduksi Cu2+ menjadi Cu+. Reaksinya sebagai berikut:
CuCO3 + C6H12O6                 Cu2O
Gula reduksi yang terdapat pada glukosa adalah sorbitol, sedangkan pada fruktosa gula reduksi adalah campuran dari sorbitol dan mannital. Galaktosa memiliki gula reduksi berupa dulsital. (http://ayoncrayon.blogspot.com/2010/03/uji-karbohidrat.html)
Monosakarida segera mereduksi senyawa-senyawa pengoksidasi seperti ferisianida, hydrogen peroksida, atau ion cupri (Cu2+). Pada reaksi sepreti ini, guka dioksidasi pada gugus karbonil, dan senyawa pengoksidasi menjadi tereduksi dimana senyawa-senyawa pereduksi adalah pemberi elektron dan senyawa pengoksidasi adalah penerima elektron. Glukosa dan gula-gula lain yang mampu mereduksi senyawa pengoksidasi disebut gula pereduksi. Sifat ini berguna dalam analisis gula. Dengan mengukur jumlah dari senyawa pengoksidasi yang tereduksi oleh suatu larutan gula tertentu, dapat dilakukan dengan pendugaan konsentrasi gula. Gula yang mengandung gugus aldehid atau keton bebas mereduksi indicator-indikator seprti kompleks ion kupri (Cu2+) menjadi bentuk kupro (Cu+). Bahan pereduksi pada reaksi-reaksi ini adalah bentuk rantai terbuka aldosa dan ketosa. Ujung pereduksi dari suatu gula adalah ujung yang mengandung gugus aldehida atau keto bebas.








V.       METODE PRAKTIKUM
a.      Alat dan Bahan
Alat
Bahan
1.      TEST IODIUM
·        Palet dengan 6 lubang
2.      TEST BENEDICT
·        Tabung reaksi
·        Penjepit tabung reaksi
·        Bunsen
1.      TEST IODIUM                 2. TEST BENEDICT
Kentang                              Sari Tomat
Singkong                             Sari Jeruk
Beras                                   Sari Nanas
Roti tawar                          Sari Mentimun
Pisang                                 Susu Kental Manis
Ubi                                      Air Gula
Larutan Iod                        Larutan Benedict
b.      Cara Kerja
1.       TEST IODIUM

2.      TEST BENEDICT

VI.     HASIL PENGAMATAN
1.      TEST IODIUM
NO
BAHAN MAKANAN
JUMLAH TETESAN IODIUM
WARNA YANG DIHASILKAN
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Beras
Nasi
Kentang Mentah
Kentang Matang
Singkong Mentah
Singkong Matang
Ubi Mentah
Ubi Matang
Pisang
Roti Tawar
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
Coklat/keunguan
Keunguan/biru tua
Coklat
Biru tua
Biru tua/kehitaman
Biru tua/kehitaman
Biru tua
Biru tua/kehitaman
Keunguan
Biru tua/kehitaman

Gambar Pengamatan
a.      Sebelum ditetesi larutan iod
b.      Setelah ditetesi larutan iod
 



2.      TEST BENEDICT
NO
BAHAN MAKANAN
JUMLAH TETESAN
WARNA YANG DIHASILKAN
1
2
3
4
5
6
Sari Buah Tomat
Sari Buah Nanas
Sari Buah Mentimun
Air Perasan Jeruk
Susu Kental Manis
Larutan Gula
5
5
5
5
5
5

Coklat muda
Kuning kecoklatan
Coklat keunguan
Coklat tua
Orange (endapan)
Kekuningan
Gambar Pengamatan
 
VII.   PEMBAHASAN
Karbohidrat adalah polihidroksi aldehid atau keton atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisa. Molekul karbohidrat terdiri atas atmo-atom karbon, hidrogen dan oksigen. Pada senyawa yang termasuk karbohidrat terdapat gugus –OH, gugus aldehid atau gugus keton.
Karbohidrat secara kualitatif dapat dikenali dengan melakukan beberapa uji. Karbohidrat memberikan reaksi positif dengan uji molish. Prinsip reaksi ini adalah dehidrasi senyawa karbohidrat oleh asam sulfat pekat. Dehidrasi heksosa menghasilkan senyawa hidroksi metil furfural, sedangkan dehidrasi pentosa menghasilkan senyawa fulfural. Uji positif jika timbul cincin merah ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil furfural dengan -naftol dalam pereaksi molish.
Uji benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas, seperti yang terdapat pada laktosa dan maltosa. Uji benedict berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh gugus aldehid atau keton bebas dalam suasana alkalis, biasanya ditambahkan zat pengompleks seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya pengendapan CuCO3. uji positif ditandai dengan terbentuknya larutan hijau, merah, orange atau merah bata serta adanya endapan.
Pada uji iodine, kondensasi iodine dengan karbohidrat, selain monosakarida dapat menghasilkan warna yang khas. Amilum dengan iodine dapat membentuk kompleks biru, sedangkan dengan glikogen akan membentuk warna merah. (http://aboutchemistry21.blogspot.com/2008/12/analisa-kualitatif-karbohidrat.html)
Benedict Reagen digunakan untuk mentes atau memeriksa kehadiran gula monosakarida dalam suatu cairan. Monosakarida bersifat reduktor, dengan diteteskannya Reagen akan menimbulkan endapan merah bata. Selain menguji kualitas, secara kasar juga berlaku secara kuantitatif, karena semakin banyak gula dalam larutan maka semakin gelap warna endapan.
Selain itu, test benedict juga digunakan untuk memeriksa kandungan glukosa yang terdapat Dallam urine. Adanya glukosa dalam urin jika dikonfirmasikan dengan uji Benedict merupakan indikasi diabetes. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin harus dilakukan untuk mengidentifikasi gula hadir.
Reagen Benedict digunakan untuk menguji karbohidrat sederhana. Karbohidrat kompleks seperti pati tidak memberikan hasil positif dengan tes ini, kecuali jika mereka rusak oleh pemanasan. Tabel gula adalah mengurangi non-gula dan tidak dapat dideteksi dalam tes ini.
            Dari hasil praktikum yang kami lakukan, tidak semua bahan makanan menunjukkan perubahan warna positif pada setiap tes yang dilakukan. Baik pada tes iodium maupun pada test benedict. Hal tersebut mungkin disebabkan karena kurangnya ketelitian dalam mengerjakan praktikum tersebut. Tapi pada tes iodium, hampir semua bahan makann menunjukkan perubahan warna positif terhadap uji tersebut.
VIII. KESIMPULAN
Karbohidrat merupakan kelompok besar senyawa polihidroksialdehida dan polihidroksiketon atau senyawa-senyawa yang dapat dihidrolisis menjadi polihidroksialdehida atau polihidroksiketon. Karbohidrat dikelompokkan menjadi empat kelompok penting yaitu monosa-karida, disakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Terdapat beberapa pengujian pada karbohidrat diantaranya tes iodium dan tes benedict.
Bahan makanan yang setelah ditetesi larutan iodine akan menghasilkan perubahan warna positif dengan berubah warna menjadi biru kehitaman. Hal ini berarti larutan amilum mengandung pati
Sedangkan bahan makanan (sari) yang ditetesi larutan benedict lalu dipanaskan akan mengalami perubahanwarna dari biru menjadi merah bata, jadi reaksi yang dihasilkan positif. Jika perubahan warna positif tersebut terlihat berarti bahan makanan yang di uji mengandung glukosa.
Tidak semua uji menghasilkan hasil yang positif. Ketidakcertmatan dalam prosedur kerja akan mempengaruhi hasil percobaaan.
IX.      DAFTAR PUSTAKA
Wahyudi,dkk. 2003. Kimia Organik II. Malang : UM Press.












PRAKTIKUM 2
I.     JUDUL                         :
TES BIURET
II.  TUJUAN                         :
Mengetahui kandungan protein pada bahan makanan
III.TANGGALPRAKTIKUM:
11 OKTOBER 2010

IV. PENDAHULUAN
Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.
Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof). (http://id.wikipedia.org/wiki/Protein)
            Dalam kehidupan, protein memegang peranan yang sangat penting. Proses kimia dalam tubuh dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protei yang berfungsi sebagai biokatalis. Selain itu, haemoglobin dalam butir-butir darah merah atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengankkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, adalah salah sattu jenis protein. Demikian pula zat-zat yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau yang disebut antigen, juga suatu protein.
            Beberapa makanan sumber protein adalah daging, telur, susu, ikan, beras, kacang, kedelai, gandum, jagung dan buah—buahan. Tumbuhan membentuk protein dari CO2, H2O, dan senyawa nitrogen. Hewan yang makan tumbuhan mengubah protein nabati menjdi protein hewani. Disamping digunakan untuk pebentukkan sel-sel tubuh, protein uga dapat digunakan sebagai sumber energy apabila tubuh kita kekurangan karbohidrat dan lemak. Komposisi rata-rata unsure kimia yang terdapat dalam protein antara lain karbon 50%, hydrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 16%, belerang 0-3%, dan fosfor 0-3%.
            Dengan berpedoan pada kadar nitrogen sebesar 16%, dapat dilakukan penentuan kadar protein dalam suatu bahan makanan. Unsure nitrogen ditentukan secara kkuantitatif, misalnya dengan cara Kjeldahl, yaitu dengan cara destruksi dengan asam pekat. Berat protein yang ditentukan adalah 6,25 kali berat unsure nitrogen.
            Protein mempunyai molekul besar dengan bobot molekul bervariasi antara 5000 sampai jutaan. Dengan cara hidrolisisoleh asam atau oleh enzim, protein akan menghasilkan asam-asam amino. Ada 20 jenis asam amino yang terdapat dalam molekul protein. Asam-asam amino ini terikat satu dengan yang lainnya oleh ikatan peptida. Protein mudah dipengaruhi oleh suhu tinggi, pH dan pelarut organik.
(Ana Poedjiadi, 2005)
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jöns Jakob Berzelius pada tahun 1838.
Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosom. Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi.
Struktur tersier protein
Protein ini memiliki banyak struktur sekunder beta-sheet dan alpha-helix yang sangat pendek. Model dibuat dengan menggunakan koordinat dari Bank Data Protein (nomor 1EDH). Struktur protein dapat dilihat sebagai hirarki, yaitu berupa struktur primer (tingkat satu), sekunder (tingkat dua), tersier (tingkat tiga), dan kuartener (tingkat empat).
1.      Struktur primer protein merupakan urutan asam amino penyusun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida (amida). Frederick Sanger merupakan ilmuwan yang berjasa dengan temuan metode penentuan deret asam amino pada protein, dengan penggunaan beberapa enzim protease yang mengiris ikatan antara asam amino tertentu, menjadi fragmen peptida yang lebih pendek untuk dipisahkan lebih lanjut dengan bantuan kertas kromatografik. Urutan asam amino menentukan fungsi protein, pada tahun 1957, Vernon Ingram menemukan bahwa translokasi asam amino akan mengubah fungsi protein, dan lebih lanjut memicu mutasi genetik.
2.      Struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen. Berbagai bentuk struktur sekunder misalnya ialah sebagai berikut:
a.      alpha helix (α-helix, "puntiran-alfa"), berupa pilinan rantai asam-asam amino berbentuk seperti spiral;
b.      beta-sheet (β-sheet, "lempeng-beta"), berupa lembaran-lembaran lebar yang tersusun dari sejumlah rantai asam amino yang saling terikat melalui ikatan hidrogen atau ikatan tiol (S-H);
c.       beta-turn, (β-turn, "lekukan-beta"); dan
d.      gamma-turn, (γ-turn, "lekukan-gamma").
3.      Struktur tersier yang merupakan gabungan dari aneka ragam dari struktur sekunder. Struktur tersier biasanya berupa gumpalan. Beberapa molekul protein dapat berinteraksi secara fisik tanpa ikatan kovalen membentuk oligomer yang stabil (misalnya dimer, trimer, atau kuartomer) dan membentuk struktur kuartener.
4.      Contoh struktur kuartener yang terkenal adalah enzim Rubisco dan insulin.
Kehadiran ikatan-ikatan peptida dideteksi dengan melakukan uji kimia bernama biuret test. Dalam tes ini adalah pertama sampel dipanaskan dan kemudian Natrium Hidroksida dicampur ke dalamnya. Tetes dari 1 persen tembaga (II) sulfat ditambahkan perlahan-lahan. Tembaga II dikurangi menjadi tembaga aku di dalam tes positif. Hal ini membantu untuk membentuk sebuah kompleks dengan nitrogen dan karbon dari ikatan-ikatan peptida dalam larutan basa. Suatu perubahan warna sampel pengujian akan memberikan suatu hasil positif atau negatif. Ketika sampel berubah menjadi ungu itu berarti bahwa sampel mengandung protein. Ikatan-ikatan peptida terjadi dengan frekuensi yang kurang lebih sama untuk sebagian besar protein per gram bahan. Jadi untuk menentukan konsentrasi reaksi biuret protein dapat digunakan. Jika konsentrasi adalah lebih, sampel akan berubah menjadi ungu yang lebih mendalam.
Banyak protein mengandung sulfur. Mereka kompleks dengan molekul yang terdiri dari karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Asam amino adalah hasil dari blok ini protein dan mereka terhubung oleh ikatan peptida. Ada banyak kesamaan antara asam amino dan molekul biuret dan keduanya bereaksi dengan cara yang sama. Reagen Biuret biru muda solusi, yang berubah menjadi ungu jika dicampur dengan larutan yang mengandung protein. Sebuah kompleks warna ungu terbentuk ketika ion tembaga dari Reagent Biuret bereaksi dengan ikatan peptida pada rantai polipeptida. Karena protein dibuat dari asam amino, kehadiran ikatan-ikatan peptida selama uji Biuret protein akan selalu memberikan hasil positif untuk semua jenis makanan berbasis protein. (http://www.scumdoctor.com/nutrition/protein/Biuret-Test-For-Proteins.html)


V.   METODE PRAKTIKUM
a.      Alat dan Bahan
Alat
Bahan
1.      Tabung reaksi
2.      Pipet Tetes
3.       Plat Tetes
1.      Tahu
2.      Tempe
3.      Ikan
4.      Telur
5.      Daging ayam
6.      Daging sapi
7.      Kedelai
8.      Larutan Biuret

b.      Cara Kerja
VI. HASIL PENGAMATAN
NO
ZAT MAKANAN
JUMLAH TETESAN
WARNA YANG TERJADI
INTENSITAS
1
2
3
4
5
6
7
8
Tahu
Tempe
Ikan
Putih telur
Kuning telur
Daging yam
Kedelai rebus
Daging sapi
3
3
3
3
3
3
3
3
Ungu muda
Ungu muda
Ungu tua
Ungu muda
Kuning
Ungu tua
Keunguan
Keunguan
+3
+3
+4
+3
-
+4
+1
+2

Gambar Pengamatan
a.       Sebelum ditetesi Larutan Biuret
b.      Setelah ditetesi  Larutan Biuret
 



VII.    PEMBAHASAN
Struktur primer protein bisa ditentukan dengan beberapa metode : (1) hidrolisis protein dengan asam kuat (misalnya, 6N HCl) dan kemudian komposisi asam amino ditentukan dengan instrumen amino acid analyzer, (2) analisis sekuens dari ujung-N dengan menggunakan degradasi Edman, (3) kombinasi dari digesti dengan tripsin dan spektrometri massa, dan (4) penentuan massa molekular dengan spektrometri massa.
Struktur sekunder bisa ditentukan dengan menggunakan spektroskopi circular dichroism (CD) dan Fourier Transform Infra Red (FTIR). Spektrum CD dari puntiran-alfa menunjukkan dua absorbans negatif pada 208 dan 220 nm dan lempeng-beta menunjukkan satu puncak negatif sekitar 210-216 nm. Estimasi dari komposisi struktur sekunder dari protein bisa dikalkulasi dari spektrum CD. Pada spektrum FTIR, pita amida-I dari puntiran-alfa berbeda dibandingkan dengan pita amida-I dari lempeng-beta. Jadi, komposisi struktur sekunder dari protein juga bisa diestimasi dari spektrum inframerah.
Struktur protein lainnya yang juga dikenal adalah domain. Struktur ini terdiri dari 40-350 asam amino. Protein sederhana umumnya hanya memiliki satu domain. Pada protein yang lebih kompleks, ada beberapa domain yang terlibat di dalamnya. Hubungan rantai polipeptida yang berperan di dalamnya akan menimbulkan sebuah fungsi baru berbeda dengan komponen penyusunnya. Bila struktur domain pada struktur kompleks ini berpisah, maka fungsi biologis masing-masing komponen domain penyusunnya tidak hilang. Inilah yang membedakan struktur domain dengan struktur kuartener. Pada struktur kuartener, setelah struktur kompleksnya berpisah, protein tersebut tidak fungsional. (http://id.wikipedia.org/wiki/Protein)
Protein adalah molekul makro yang mempunyai berat molekul antara lima ribu hingga beberapa juta. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino, yang terikat satu sama lain dalam ikatan peptide. Asam amino terdiri dari unsure-unsur karbon, hydrogen, oksigenn dan nitrogen. Beberapa asam amino disamping itu mengandung unsure-unsur fosfor, besi, iodium dan kobalt. Unsure nitrogen adalah unsure yang utama dalam protein, karena terdapat di dalam semua protein akan tetapi tidak terdapat dalam karbohidrat dan lemak. Unsure nitrogrn merupakan 16 % dari berat protein.
Molekul protein lebih kompleks daripada molekul karbihidrat dan lemak dalam hal berat molekul dan keanekaragaman unit-unit asam amino yang membentuknya. Berat molekul protein bias mencapai empat puluh juta, bandingkan dengan molekul glukosa yang besarnya 180. Jenis protein sangat banyak, mungkin sampai 1010-1012. Ini dapat dibayangkan bila diketahui bahwa protein terdiri atas sekian kombinasi berbagai jenis dan jumlah asam amino. Ada dua puluh jenis asam amino yang diketahui sampai sekarang yang terdiri atas Sembilan asam amino esensial (asam amino yang tidak dapat dibuat tubuh dan  harus didatangkan dari makanan) dan sebelas asam amino nonesensial.
Ada beberapa fungsi protein yang sangat berguna dan penting bagi tubuh manusia, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.      Pertumbuhan dan pemeliharaan
2.      Pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh
3.      Mengatur keseimbangan air
4.      Memelihara netralitas tubuh
5.      Pembentukan antibodi
6.      Mengangkut zat-zat gizi
7.      Sumber energi
Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam jumlah maupun mutu, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang. Sumber protein nabati adalah kacang kedelai dan hasilnya, seperti tempe dan tahu, serta kacang-kacang lainnya. Kacang kedelai merupakan sumber protein nabati yang mempunyai mutu atau nilai biologi tertinggi. (Sunita Almatsier, 2004)
            Dalam praktikum yang kami lakukan menunjukkan hasil yang kurang sesuai dengan literature. Dari hasil praktikum kami yang menunjukkan kandungan protein paling tinggi diantara bahan-bahan makanan yang kami uji adalah ikan dan daging ayam. Sedangkan kedelai tidak menunjukkan perubahan arna yang signifikan terhadap uji biuret ini.
VIII.  KESIMPULAN
Dari data hail pengamatan menunjukkan bahwa hampir semua bahan makanan yang kami uji menunjukkan perubahan warna yang positif terhadap uji biuret. Kecuali pada kuning telur yang tidak menunjukkan perubahan warna. Hal tersebut menunjukkan bahwa kuning tersebut tidak mengandung protein.
Dari hasil praktikum, yang menunjukkan perubahan warna paling pekat diantara yang lainnya adalah daging ayam dan ikan.
IX. DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Poedjiadi, Ana. 2005. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia
(UI-Press)













PRAKTIKUM 3
I.     JUDUL                         :
UJI LEMAK dan PENCERNAAN LEMAK
II.  TUJUAN                         :
1.      Mengetahui kandungan lemak pada bahan makanan
2.       Mengamati pengaruh empedu terhadap lemak
III.TANGGALPRAKTIKUM:
18     OKTOBER 2010

IV.     PENDAHULUAN
Lemak (bahasa Inggris: fat) merujuk pada sekelompok besar molekul-molekul alam yang terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen meliputi asam lemak, malam, sterol, vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak (contohnya A, D, E, dan K), monogliserida, digliserida, fosfolipid, glikolipid, terpenoid (termasuk di dalamnya getah dan steroid) dan lain-lain.
Lemak secara khusus menjadi sebutan bagi minyak hewani pada suhu ruang, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair, yang terdapat pada jaringan tubuh yang disebut adiposa. Pada jaringan adiposa, sel lemak mengeluarkan hormon leptin dan resistin yang berperan dalam sistem kekebalan, hormon sitokina yang berperan dalam komunikasi antar sel. Hormon sitokina yang dihasilkan oleh jaringan adiposa secara khusus disebut hormon adipokina, antara lain kemerin, interleukin-6, plasminogen activator inhibitor-1, retinol binding protein 4 (RBP4), tumor necrosis factor-alpha (TNFα), visfatin, dan hormon metabolik seperti adiponektin dan hormon adipokinetik (Akh).
Karena struktur molekulnya yang kaya akan rantai unsur karbon (-CH2-CH2-CH2-) maka lemak mempunyai sifat hydrophob. Ini menjadi alasan yang menjelaskan sulitnya lemak untuk larut di dalam air. Lemak dapat larut hanya di larutan yang apolar atau organik seperti : eter, Chloroform, atau benzol.
            Istilah Lipida meliputi senyawa-senyawa heterogen, termasuk lemak dan minyak yang umum dikenal dalam makanan, malam, fosfolipida, sterol, dan ikatan lain sejenis yang terdapat dalam makanan dan tubuh manusia. Lipida mempunyai sifat yang sama, yaitu larut dalam pelarut nonpolar, seperti etanol, eter, kloroform, dan benzena.
            Klasifikasi lipida yang penting dalam ilmu gizi menurut komposisi kimia dapat dilakukan sebagai berikut :
1.      Lipida Sederhana
·         Lemak netral, seperti monogliserida, digliserida, dan trigliserida (ester asam lemak dengan gliserol)
·         Ester asam lemak dengan alcohol berberat molekul tinggi, seperti malam, ester sterol, ester nonsterol, ester vitamin A dan ester vitamin D
2.      Lipida Majemuk (compound lipids)
·         Fosfolipida
·         Lipoprotein
3.      Lipida Turunan (derived lipids)
·         Asam Lemak
·         Sterol
·         Kolesterol dan ergosterol
·         Hormone steroida
·         Vitamin D
·         Garam empedu
4.      Lain-lain
·         Karotenoid dan vitamin A
·         Vitamin E
·         Vitamin K
(Sunita Almatsier, 2004)
            Salah satu kelmpok senyawa organic yang terdapat dalam tumbuhan, hewan, atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia adalah lipida. Lemak merupakan suatu ester asam lemak dengan gliserol. Gliserol adalah suatu trihidroksi alcohol yang terdiri atas tiga atom karbon. Jadi tiap atom karbon mempunyai gugus –OH. Satu molekul gliserol dapat mengikat satu, dua atau tiga molekul asam lemak dalam bentuk ester, yang disebut monogliserida, digliserida dan trigliserida. Pada lemak, satu molekul gliserol mengikat tiga molekul asam lemak. Oleh karena itu lemak adalah suatu trigliserida.
OH-CH2                                   R1-COO-CH2                        OH-CH2                R1-COO-CH2
                                                                                                           
OH-CH                                 OH-CH                 R2-COO-CH                  R2-COO-CH

OH-CH2                                OH-CH2                               R3-COO-CH2                R3-COO-CH2
Gliserol                        monogliserida             digliserida                   trigliserida

            R1-COOH, R2-COOH, dan R3-COOH ialah molekul asam lemak yang terikat pada gliserol. Ketiga molekul asam lemak itu boleh sama atau boleh berbeda. Asam lemak yang terdapat dalam alam ialah asam palmitat, stearat, oleat, dan linoleat.
            Lemak hewan pada umumnya berupa zat padat pada suhu ruangan, sedangkan lemak yang berasal dari tumbuhan berupa zat cair. Lemak yang mempunyai titik lebur tinggi mengandung asam lemak jenuh, sedangkan lemak cair atau yang biasa disebut minyakmengandung asam lemak tidak jenuh. Sebagai contoh tristearin yaitu ester gliserol dengan tiga molekul asam stearat, mempunyai titik lebur 710C, sedangkan triolein, yaitu ester dengan tiga molekul asam oleat mempunyai titik molekul -170C. lemak hewan dan tumbuhan mempunyai susunan asam lemak yang berbeda-beda. Untuk menentukan derajat ketidakjenuhan asam lemak yang terkandung didalamnya diukur dengan bilangan iodium. Tiap molekul iodium mengadakan eaksi adisi pada suatu ikatan rangkap. Oleh karena itu, makin banyak ikatan rangkap makin banyak pula iodium yang dapat bereaksi. Bilangan iodium adalah banyaknya gram iodium yang dapat bereaksi dengan 100 gram lemak. Jadi, makin banyak ikatan rangkap, makin besar bilangan iodiumnya. (Anna Poedjiadi, dkk. 2005)
Secara umum dapat dikatakan bahwa lemak memenuhi fungsi dasar bagi manusia, yaitu:
1.      Menjadi cadangan energi dalam bentuk sel lemak. 1 gram lemak menghasilkan 39.06 kjoule atau 9,3 kcal.
  1. Lemak mempunyai fungsi selular dan komponen struktural pada membran sel yang berkaitan dengan karbohidrat dan protein demi menjalankan aliran air, ion dan molekul lain, keluar dan masuk ke dalam sel.
  2. Menopang fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal, seperti pada prostaglandin dan steroid hormon dan kelenjar empedu.
  3. Menjadi suspensi bagi vitamin A, D, E dan K yang berguna untuk proses biologis
  4. Berfungsi sebagai penahan goncangan demi melindungi organ vital dan melindungi tubuh dari suhu luar yang kurang bersahabat.
Lemak juga merupakan sarana sirkulasi energi di dalam tubuh dan komponen utama yang membentuk membran semua jenis sel. (http://id.wikipedia.org/wiki/lemak)

V.       METODE PRAKTIKUM
a.      Alat dan Bahan
1.      UJI LEMAK
Alat
Bahan
1.      Kertas Minyak/kertas HVS/ Kertas buram
2.      Lumpang porselin
3.       Alu porselin
2.      Mentega
3.      Kacang  tanah
4.      Kelapa
5.      Kemiri
6.      Susu bubuk
7.      Minyak goreng
8.       kentang

2.      PENCERNAAN LEMAK
Alat
Bahan
1.      Tabung reaksi
2.      Pipet Tetes
3.       Batang Pengaduk
1.      Empedu ikan
2.      Minyak goreng



b.      Cara Kerja
1.      UJI LEMAK
2.      PENCERNAAN LEMAK
VI.     HASIL PENGAMATAN
NO
BAHAN MAKANAN
UJI LEMAK
1
2
3
4
5
6
7
Mentega
Kacang tanah
Kelapa
Kemiri
Susu Bubuk
Minyak Goreng
Kentang
-

Gambar Pengamatan
                                                                                                            
            Mentega                     minyak                                    santan             susu bubuk
        
          Susu cair                                    kemiri                          kelapa                       kentang
VII.   PEMBAHASAN
Lemak adalah sekelompok ikatan organic yang terdiri atas unsure-unsur karbon, hydrogen, dan oksigen, yang mempunyai sifat dapat larut dalam zat-zat pelarut tertentu, seperti petroleum benzene, ether. Lemak yang mempunyai titik lebur rendah, bersifat cair. Lemak yang padat pada suhu kamar disebut lemak atau gaji, sedangkan yang cair pada suhu kamar disebut minyak.
Lemak di dalam makanan yang memegang peranan penting adalah yang disebut lemak netral atau trigliserida. Yang molekulnya terdiri atas satu molekul gliserol, dan tiga molekul asam lemak. Yang diikatkan pada gliserol tersebut dengan ikatan ester. Ketiga ikatan asam lemak tersebut bias sama semua, tetapi dapat juga dua sama atau ketiganya tidak ada yang sama.
Lemak dalam bahan makanan ditentukan denganmetode ekstraksi beruntun di dalam alat Soxhlet, mempergunakan ekstraktans pelarut lemak. Bahan makanan yang akan ditentukan kadar lemaknya, dipotong-potong setelah dipisahkan dari bagian yang tidak dimakan seperti kulit dan lainnya. Ekstraksi dilakukan berturut-turut beberapa jam dengan dipanaskan. Setelah diperkirakan  selesai cairan ekstraktans diuapkan dan residu yang tertinggal ditimbang dengan teliti. Persentase lemak (residu) terhadap berat jumlah asal bahan makanan yang diolah (sample) dapat dihitung dan kadar lemak bahan makanan tersebut dinyatakan dalam gram persen.
(Achmad Djaeni S.1985)
Dengan proses hidrolisis lemak akan terurai menjadi asam lemak dan gliserol. Proses ini dapat berjalan dengan menggunakan asam, basa atau enzim tertetu. Proses hidrolisis yang menggunakan basa menghasilkan gliserol dan garam asam lemak atau sabun. Oleh karena itu proses hidrolisi yang menggunakan basa disebut proses penyabunan. Jumlah mol basa yang digunakan dalam proses penyabunan ini tergantung pada jumlah mol asam lemak.gliserol digunakan dalam tekknologi farmasi dan kosmetika sebagai bahan dalam pembuatan preparat yang dihasilkan. Disamping itu gliserol berguna bagi kita untuk sintesis lemak di dalam tubuh. (Ana Poedjiadi,2005)
Dalam praktikum yang kami lakukan mengenai uji lemak hampir semua bahan makanan menunjukkan perubahan positif terhadap uji tersebut. Sedangkan untuk uji pencernaan lemak terbukti bahwa lemak larut dalam empedu.

VIII. KESIMPULAN
Dari data hasil pengamatan terlihat hampir semua bahan makanan menunjukkan hasil positif dari uji lemak, yaitu mentega, minyak goreng, kacang tanaj, kemiri, kelapa, dan susu. Sedangkan untuk kentang menunjukkan hasil yang negative terhadap uji lemak. Hal tersebut terjadi karena kentang tidak mengandung lemak, melainkan mengandung karbohidrat sepert yang telah dilakukan pada praktikum sebelumnya.
Untuk praktikum pencernaan lemak, digunakan empedu ikan untuk membuktikan bahwa lemak dapat larut dalam empedu.

IX.      DAFTAR PUSTAKA
Poedjiadi, Anna. 2005. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Penerbit Unversitas Indonesia (UI-Press)
Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Sedioetama, Achmad Djaeni. 1985. Ilmu Gizi. Jakarta : Penerbit Dian Rakyat.




















PRAKTIKUM 4
I.      JUDUL                       :
UJI VITAMIN C
II. TUJUAN                         :
Mengetahui kandungan vitamin C pada berbagai buah
III.TANGGALPRAKTIKUM :
 25 OKTOBER 2010

IV.          PENDAHULUAN
Vitamin adalah senyawa-senyawa organic tertentu yang diperlukan dalam jumlah kecil dalam diet seseorang tetapi esensial untuk reaksi metabolisme dalam sel dan penting untuk melangsungkan pertumbuhan normal serta memelihara kesehatan.
Kebanyakan vitamin-vitamin ini tidak dapat disintesis tubuh. Beberapa diantaranya masih dapat dibentuk oleh tubuh, namun kecepatanpembentukannya sangat kecil sehingga jumlah yang terbentuk tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Oleh karena itu, tubuh harus memperoleh vitamin dari makanan sehari-hari. Jadi, vitamin mengatru metabolisme, mengubah lemak dan karbohidrat menjadi energy,  dan ikut mengatur pembentukan tulang dan jaringan.
Pada saat ini terdappat lebih dari 20 vitamin. Vitamin dibagi dalam dua golongan. Golongan pertama ooleh Kodicek (1971) disebut prakoenzim dan bersifat larut dalam air, tidak disimpan oleh tubuh, tidak beracun, disekresikan dalam urine. Yang termasuk golongan ini adalah tiamin, riboflavin, asam nikotinat, piridoksin, asam kolat, biotin, asam pantotenat, vitamin B12 dan vitamin C.
Golongan yang kedua yang larut dalam lemak disebut alosterin, dan dapat disipan dalam tubuh. Apabila vitamin ini terlalu banyak dimakan, akan tersimpan dalam tubuh, dan memberikan gejala penyakit tertentu (hipervitaminosis), yang juga membahayakan. Kekurangan vitamin mengakibatkan terjadinya penyakit defisiensi, tetapi biasanya gejala penyakit akan hilang kembali apabila kecukupan vitamin tersebut terpenuhi. (Anna Poedjiadi. 2005)
Sebagian besar vitamin larut air merupakan komponen system enzim  yang banyak terlibat dalam membantu metabolisme energy. Vitamin larut air biasanya tidak disimpan di dalam tubuh, dan dikeluarkan melalui urine dalam jumlah kecil. Oleh sebabitu, vitamin larut air perlu dikonsumsi tiap hari untuk mencegah kekurangan yang dapat  mengganggu funsi tubuh normal.
Vitamin larut air dikelompokkan menjadi vitamin C dan vitamin B kompleks. Vitamin B kompleks terdiri atas sepuluh factor yang saling berkaitan fungsinya di dalam tubuh dan terdapat di dalam bahan makanan yang hampir sama. Fungsinya terkait di dalam proses metabolism sel hidup, baik pada tumbuh-tumbuhan maupun hewan sebagai koenzim atau kofaktor.
VITAMIN C
a.      Sejarah vitamin C
Penyakit scurvy telah dikenal sejak abad ke-15, yaitu penyakit yang banyak diderita oleh pelaut yang berlayar selama berbulan-bulan serta bertahan dengan makanan yang dikeringkan dan biscuit. Penyakit ini menyebabkan pucat, rasa lelah berkepanjangan, tukak, dan pada akhirnya kematian.
Pada tahun 1750, Lind seorang dokter dari Skotlandia meneukan bahwa scurvy dapat dicegah dan diobati dengan memakan jeruk. Baru pada tahun 1932 Szent Gyorgyi dan C. Glenn King berhasil mengisolasi zat antiskorbut dari jaringan adrenal, jeruk, dan kol yang dinamakan vitamin C. zat ini kemudian berhasil disintesis pada tahun 1933 oleh Haworth dan Hirst sebagai asam askorbat.
b.      Sifat
Vitamin C adalah Kristal putih yang mudah larut dalam air. Dalam keadaan kering, vitamin C cukup stabil. Tetapi dalam keadaan larut, vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama bila terkena panas. Oksidasi dipercepat dengan kehadiran tembaga dan besi. Vitamin C tidak stabildalam larutan alkali, tetapi cukup stabil dalam larutan asam. Vitamin C adalah vitamin yang paling stabil.
           
c.       Susunan Kimia
Asam askorbat (vitamin C) adalah suatu turunan heksosa dan diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang erat berkaitan dengan monosakarida. Vitamin C dapat disintesis dari D-glukosa dan D-galaktosa dalam tumbuh-tumbuhan dan sebagian besar hewan. Citamin C terdapat dalam dua bentuk di alam, yaitu L-asam askorbat (bentuk tereduksi) dan L-asam dehidro askorbat (dalam bentuk teroksidasi).oksidasi bolak-balik L-asam askorbat menjadi L-asam dehidro askorbat terjadi bila bersentuhan dengan tembaga, panas atau alkali.
Kedua bentuk vitamin C aktif secara biologis tetapi bentuk tereduksi adalah yang paling aktif. Oksidasi leih lanjut L-asam dehidro askorbat menghasilkan asam dketo L-gulonat dan oksalat yang tidak dapat direduksi kembali (berartitelah kehilangan sifat antiskorbutnya).
d.      Metabolisme
Vitamin C mudah di absorpsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Rata-rata absorpsi adalah 90% untuk konsumsi diantara 20 dan 120 mg sehari. Konsumsi tinggi sampai 12 gr (sebagai pil) hanya diabsorpsi sebanyak 16%. Vitamin C kemudian dibawa ke semua jaringan. Konsentrasi tertinggi adalah di dalam jaringan adrenal, pituitary, dan retina.
Tubuh dapat enyimpan hingga 1500 mg vitamin C bila konsumsi mencapai 100 mg perhari. Jumlah ini dapa mencegah terjadiny skorbut selama tiga bulan, tanda-tanda skorbut akan terjadi bila persendian tinggal 300 mg. Konsumsi  melebihi taraf kejenuhan berbagai jaringan dikeluarkan melalui urine dalam bentuk asam oksalat. Pada konsumsi melebihi 100 mg sehari kelebihan akan dikeluarkan sebagai asam askorbat atau sebagai karbondioksida melalui pernapasan. Walaupun tubuh mengandung sedikit vitamin C, sebagian tetap akan dikeluarkan. Makanan yang tinggi dalam seng atau pectin dapat mngurangi absorpsi sedangkan zat-zat dalam ekstrakjeruk dapat meningkatkan absorpsi.

e.      Fungsi
Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh, sebagai koenzim atau kofaktor. Asam askorbat adalah bahan yang kuat kemampuan reduksinya dan bertindak sebagai antioksidan dalam reaksi-reaksi hidroksilasi. Beberapa turunan vitamin C digunakan sebagai antioksidan di dalam industry pangan untuk mencegah proses menjdi tengik, perubahan warna (browning) pada buah-buahan dan pengawet pada daging.
(Sunita Almatsier. 2004)
V.            METODE PRAKTIKUM
a.      Alat dan Bahan
Alat
Bahan
1.       Rak tabung reaksi
2.       Tabung reaksi
3.       Pipet tetes
4.       Gelas ukur 25 ml
5.       Gelas kimia
6.       Bunsen
7.       Penjepit tabung reaksi
1.      Macam-macam sari buah
2.      Larutan vitamin C 0,1%
3.      Larutan Amilum Iodida













b.      Cara Kerja
VI.          HASIL PENGAMATAN
NO
BAHAN MAKANAN
JUMLAH TETES YANG DIPERLUKAN UNTUK MENETRALKAN AMILUM IODIDA
KANDUNGAN VIT. C PER ml
TIDAK DIPANASKAN
DIPANASKAN
1
2
3
4
5
Larutan Vitamin C
Sari Alpukat
Sari Jambu Biji
Sari Mangga
Sari Tomat
8 tetes
18 tetes
16 tetes
80 tetes
60 tetes
35 tetes
28 tetes
8 tetes
70 tetes
40 tetes

0,4 ml
0,9 ml
0,8 ml
4 ml
3 ml


Gambar Pengamatan
a.      Tidak Dipanaskan
 




Amilum iodida                   mangga                                     jambu biji                       alpukat                                 vit C
Tomat
b.      Dipanaskan




Alpukat                        jambu biji        mangga                       tomat                          vit C




VII.        PEMBAHASAN
Vitamin C mulai dikenal setelah dipisahkan dari air jeruk pada tahun 1928. Penyakit karena defisiensi vitamin C telah menghantui masyarakat para pelaut untuk beberapa abad sebelum dikenal adanya vitamin.
Vitamin C berbentuk Kristal putih, merupakan senyawa organic dan terasa asam, tetapi tidak berbau. Dalam larutan, vitamin C mudah rusak karena oksidasi oleh oksigen dari udara, tetapi lebih stabil bila terdapat dalam bentuk Kristal kering.
Fungsi vitamin C di dalam tubuh bersangkutan dengan sifat alamiahnya sebagai antioksidans. Meskipun mekanismenya yang tetap belum diketahui, tetapi tampaknya vitamin C berperan serta di dalam banyak proses metabolism yang berlangsung  di dalam jaringan tubuh.
Fungsi fisiologis yang telah diketahui memerlukan vitamin adalah :
1.      Kesehatan substansi matriks jaringan ikat
2.      Integritas epitel melalui kesehatan zat perekat antar sel
3.      Mekanisme imunitas dalam rangka daya tahan tubuh terhadap berbagai serangan penyakit dan toksik
4.      Kesehatan epitel pembuluh darah
5.      Penurunan kadar kolesterol
6.      Diperlukan untuk pertumbuhan tulang dan gigi
Sumber vitamin C dalam makanan terutama buh-buahan segar dan dengan kadar yang lebih rendah terdapat juga dalam sayuran segar. Di dalam buah vitamin C terdapat dengan konsentrasi tinggi di bagian kulit buah, agak lebih rendah terdapat di dalam daging buah dan lebih rendah lagi di dalam bijinya. (Acmad Djaeni, 1985)

VIII.      JAWABAN PERTANYAAN
1.      Tidak semua buah-buahan mengandung vitamin C. Misalnya pada buah pisang dan papaya yang mengndung vitamin A
2.      Makanan yang mengandung vitamin C umumnya adalah buah-buahan dan sayuran. Buah yang mengandung vitamin C tidak selalu berwarna kuning, misalnya pada jambu biji yang merupakan buah dengan kandungan vitamin C yang paling tinggi.
3.      Suhu tinggi berpengaruh terhadap vitamin C, karen jika vitamin C terkena suhu tinggi maka vitamin tersebut akan rusak. Pada percobaan setelah dipanaskan kandungan vitamin C di buah semakin sedikit.
4.      Air, suhu dan udara sangat berpengaruh pada vitamin C . 25% dari vitamin C yang terkandung dalam buah-buahan atau sayuran akan hilang oleh proses pemanasan dalam waktu singkat juga dalam proses pembekuan. Bahkan  jika kita memasukkan sumber makanan dalam dalam kaleng hanya 1/3 bagian vitamin C yang masih segar sehingga kandungan vitamin C diperoleh semaksimal mungkin.  

IX.           KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang kami lakukan, di dapatkan data bahwa yang memiliki kandungan vitamin C paling banyak per ml adalah pada sari buah mangga dan tomat.
Hal tersebut berbeda dengan literature yang kami dapatkan. Mungkin banyak hal yang memepengaruhi sehingga terjadi perbedaan antara teori dengan percobaan yang kami lakukan.

X.             DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Poedjiadi, Anna. 2005. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
Sedioetama, Achmad Djaeni. 1985. Ilmu Gizi. Jakarta : Penerbit Dian Rakyat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar